Kali ini benar - benar sial.
Dasar ceroboh! Ceroboh!
Kugaruk kepalaku, gatal-tidak gatal-gatal.
Gatal! Duh, tubuh mungil Zue hampir saja terpelanting.
Kugaruk kepalaku, gatal-tidak gatal-gatal.
Gatal! Duh, tubuh mungil Zue hampir saja terpelanting.
"Pao!"
Kutahu, suara bentakan itu berasal dari mulut Zue.
"Zue, maafkan aku, sayang."
Yang kuajak bicara malah melotot.
"Jawab, Zue! Jangan katakan kau tidak lagi mencintaiku."
Duh.
Kali ini nada suaraku mulai terdengar merengek-rengek.
Sungguh terdengar cengeng sekali.
"Diamlah, dungu!"
Aku membungkam kata. Kletak!
Dia menjitakku. Dasar nona pemarah! Hih!
"Auuu, sakit!"
"Diamlah ceroboh."
Aku melongo, lagi, Zue selalu lebih agresif dariku. Mungkin hal ini disebabkan oleh kebongsoranku yang sudah sangat berlebih-lebih.
"Hmm... Zue," kupanggil namanya selirih mungkin.
"Yaaa,"
"Mengapa harus begini?"
"Apanya, Pao?"
"Aku?"
"Kamu?"
Aku mengangguk. "Kau masih mencintaiku, bukan?"
Kletak! Jitakan kedua kembali mendarat. Aww..
"Zue..."
"Sudahlah, Pao! Kau merumputlah lebih jauh dariku."
Aku menunduk. Zue sudah teramat kasar. Biasanya dia selalu setia, menemaniku, mematuki kutu - kutu gemuk di punggungku.
Ahh Zue, kutahu kita berbeda jauh.
Lubuk Sikaping, Januari 2016
Oleh @Mitha_AdelSanto
baiklah, tulisan di bulan lalu kusetor hari ini.
Selamat membaca, sahabat..
:))
#SenandungRindu #ThadelSanto #FFku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar