Selasa, 09 Februari 2016

#Cerpenku : Hujan Pelangi di Langit Lubuk Sikaping


Hardi akan selalu setia mendampinginya.

Begitulah yang Rahma rasakan saat Hardi bergegas mengengkol pedal motor tua itu. Anak 

- anak sudah aman berada di rumah mertua, dan Rahma bisa lebih sigap untuk mencapai 

rumah sakit sesegera mungkin.
 
Jasad lelaki itu masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. Tanpa pikir panjang Rahma langsung membuka tutupan kain putih panjang yang menyelimuti tubuh ayahnya, dikecupnya perlahan dahi dingin pada wajah pucat itu. Rahma sangat terpukul, dilihatnya emak terisak di samping jasad ayah. Rahma tahu, dadanya jauh lebih bergemuruh, tetapi demi emak, Rahma akan mencoba untuk lebih tabah.

"Rahmaaaa." Melihat Rahma, emak langsung menubruknya. Anak beranak itu saling berpelukan. Rahma mencoba menahan lelehan air mata, tapi tetap saja Rahma tidak sanggup lagi membendungnya.

"Maaaak..." Emak membetulkan songkok  di kepalanya. Beberapa helai uban nampak terjulur dari pelipis emak. Emak menekan dadanya berkali - kali.

"Ayah kau, Rahma. Ayah kau telah bebas dari penyakitnya sekarang." Emak mengusapkan lengannya ke pipi yang bersimbah air mata. Rahma masih menahan isakan. Duka mendalam terasa membekaskan nyeri di palung hati.  "Tapi emak tidak akan berlarut - larut, Rahma. Semua ini telah diatur Allah. Mak sudah ikhlaskan ayah kau."

Rahma mengusap pundak emak dengan penuh sayang

"Oyaa, Di mana cucu - cucu emak?"

Rahma ingin menjawab, tetapi Hardi sudah menyahut duluan. "Iya, Mak. Kamila dan Syafika terpaksa Hardi titipkan di rumah ibu. Sebaiknya mereka menunggu dulu, nanti baru menyusul saat jenazah ayah sudah sampai di rumah."

Hujan semakin deras. Pukul 16:15 WIB ayah berpulang ke rumah Sang Pencipta.

***
Sisa - sisa hujan masih tercetak jelas di setapak tanah sekitar pemakaman. Meninggalkan bau khas tanah basah. Beberapa pelayat sudah melangkah pulang. Sementara Rahma, dan keluarga masih berjongkok di depan pusara.

"Mari pulang," suara bang Azuar terdengar sedikit memerintah. Jika tidak begitu mungkin Rahma masih terpaku menatap nisan ayahnya.

"Ayolah... " Tanpa berpikir panjang Zaidar, kakak perempuan Rahma langsung melengos sambil membimbing anaknya menuruni bukit jiraik.  Rahma berjalan bersisian dengan emak, di depannya Hardi memegangi jemari Kamila dan Syafika, membimbingnya dengan hati – hati, mengimbangi langkah keduanya agar tidak terpeleset di jalanan yang becek.

"Ibuu, lihattt, lihaaaattt." Kamila menunjuk ke arah langit. Pelangi cantik terlihat jelas melingkar dari balik bukit barisan. Syafika ikut senang dibuatnya. Dia melompat - lompat, mengikuti kakaknya menunjuk - nunjuk ke atas sana.

"Hati - hati, Sayang." Rahma memperingatkan anak - anaknya. Perempuan itu enggan mendongak. Biarlah, pikirnya. Sudah lama sekali rasanya Rahma lupa akan rupa warna di tampuk pelangi.
***

Rahma membereskan kamar barunya. Seperti saran Hardi, Rahma akhirnya memilih pindah ke rumah emak. Bahkan Hardi sendiri telah mengurus segala hal  menyangkut mutasi kerja, juga kepindahan sekolah anak - anak.

"Ini lebih baik, Rahma. Menurutku dengan kepindahan ini, emak tidak akan kesepian. "Rahma setuju sekali. Orang tua itu tentunya sangat bersuka cita. Sebab kesunyian di hari tua, selepas ditinggal suami akan sangat terasa berat jika harus beliau lewati sendirian.

"Jadi kalian sudah mantap untuk pindah?" Semalam emak bertanya dengan ragu - ragu.

"Tentu sudah, mak. Rahma pikir semua sudah seharusnya. Tidak ada alasan lain untuk menunda kepindahan ini."

Rahma hendak keluar kamar saat dari halaman terdengar suara gaduh. Rahma sadar betul kalau itu adalah suara kakaknya, Zaidar.

"Aku tidak mau tahu, Mak. Tanah emak harus dibagi dua untukku dan Rahma."

Emak terduduk di anak jenjang rumah. Rahma bergegas turun mencari tahu duduk perkaranya.  "Kak Zaidar, kenapa tidak masuk dan berbicara di dalam saja." Rahma berusaha mendinginkan suasana..

"Aaah, di sini sajalah Rahma. Aku juga ingin kautahu satu hal. Kalau kau pindah dan tinggal di kampung, aku ingin emak lekas membagi tanah warisan. Biar aku tahu mana tumpuak warisan masing - masing dari kita."

Rahma terperanjat. Warisan? seingat Rahma warisan tidaklah penting di bahas saat ini. Ibaratnya pusara ayah saja masih merah, dan sekarang kak Zaidar sibuk ingin pembagian harta dilakukan.

"Ahh, seperti inginku, tanah warisan harus dibagi dua sama rata. Separuh untukku, separuh untuk kau."

Mendengarnya emak sangat berang. Rahma menenangkan emak. Berbantah - bantahan dengan kak Zaidar sama saja dengan menambah perkara, sebab Zaidar memang bertabiat keras kepala, keras hati pula. "Pulanglah dulu, Kak. Nanti kita bincangkan keinginan kakak ini kepada abang. Sebab  kakak pasti juga paham bagaimana adat yang mengikat mengenai warisan ini."
***

Rahma baru saja kembali dari rumah bidan. Emak sedang tidak enak badan. Hujan kembali turun dengan tak sabar. Di luar rumah jangkrik - jangkrik mengerik riang. Anak - anak tengah belajar mengaji saat terdengar ketukan dari arah pintu depan.

"Tok Tok Tok."

"Siapa yaa Mak?" Rahma menatap wajah emak penuh tanya. Emak yang baru akan beristirahat hanya menggeleng.

"Kaubukalah dulu, Nak. Emak ingin berbaring dulu sebentar."
Rahma mengangguk dan berjalan menguakkan daun pintu. Di bawah temaram bola lampu sepuluh watt, Rahma bisa melihat dengan jelas siapa tamunya, dia senang bukan main sebab yang datang berkunjung tak lain adalah abang - abangnya.

"Masuklah, bang." Rahma mempersilahkan. Kedua abangnya langsung menduduki kursi rotan di ruang tamu. "Abang tunggulah dahulu. Rahma bikinkan kopi ya? Sebentar lagi bang Hardi selesai mengajari anak - anak. Emak sedang berehat pula di dipan."

Rahma berlalu ke arah dapur. Suara celotehan anak - anak mulai terdengar dari ruang tamu. Rahma tersenyum. Pasti Kamila dan Syafika yang telah selesai mengaji tengah digoda mamak – mamaknya.

"Begini, Mak. Aku dan Syarli bingung. Seperti yang sudah emak dan Rahma ketahui, sebagai ahli waris, kewajiban kami membagikan warisan pusako tuo seperti yang dituntutkan oleh Zaidar." bang Azuar memulai pembicaraan. Emak yang telah bergabung terbatuk - batuk mendengarkan.

"Menurut emak, kalau begitu bagilah. Tapi kau Azuar, Syarli, bagilah dengan adil dan rata. Emak ingin kalian akur kakak beradik. Kalau bisa sebelum Allah mengambil nyawa mak, kalian sudah selesaikan masalah pembagian ini."

Rahma merinding mendengar penuturan emak. Sawah yang luas beserta ladang - ladang akan dibagi dua untuknya dan kak Zaidar. Begitulah keharusan di Minang ini, segala harta pusako tuo akan turun kepada anak - anak perempuan kandung. Namun keserakahan dan sifat tamak kak Zaidar tentu sudah mendarah daging.

"Harta yang sudah ada jangan sampai membuat kalian sengsara nantinya." Lamunan Rahma seketika buyar saat mendengar emak memberi nasihat.Emak tersenyum, menenangkan sekali senyuman emak di mata Rahma. Udara kian dingin, Rahma mulai mengantuk. Sementara anak - anak sudah tampak pulas di ruang tengah. Beginilah suasana malam hari di kampung halaman Rahma, hening tanpa kebisingan. 

***

Seorang perempuan paruh baya terlihat asyik menyisir rambutnya, mematut diri di depan cermin lalu tersenyum. Hari ini akan ada tamu datang untuk berkunjung.

"Rahma, kau sudah selesai? Bisa bantu abang?" 
Wanita yang dipanggil Rahma tersenyum lagi. "Sebentar bang Hardi."

Rahma langsung menghampiri suaminya, di mata Rahma tidak banyak yang berubah dari seorang Hardi selain beberapa helai uban yang mulai mencolok di antara rambut hitamnya. Dengan senang hati Rahma mengancingkan kemeja suaminya. "Selesai, Bang. Ayo ke depan. Anak - anak pasti sudah sampai."

Rahma membimbing Hardi ke teras depan. Kamila dan Syafika sudah menyambut dengan senyuman. Keduanya langsung mengecup punggung tangan Rahma dan Hardi dan mendaratkan ciuman penuh rindu di pipi ayah ibunya.

Bertahun - tahun berlalu, semenjak Hardi akhirnya pensiun dari pekerjaan, anak - anak juga telah menyelesaikan studinya. Bahkan Kamila sudah dua tahun menikah dengan Hazel, sementara Syafika baru saja bertunangan.

"Ayo masuk. Ibu sudah tidak sabar ingin mendengarkan cerita kalian." Rahma menatap kedua putrinya dengan mata berbinar. Serupa pelangi petang yang terbentang indah di langit sana.

"Apalagi Mila, Bu. Kamila rinduuu sekali dengan ibu. Untung saja bang Hazel bisa ambil cuti tiga hari, jadi bisa ngumpul di hari ulang tahun ibu."

Rahma tersenyum. Hari ini usianya genap sudah limapuluh tahun. Tak banyak yang berubah. Waktu berlalu sesuai takdir Tuhan. Telah empat tahun emak berpulang menyusul ayah. Setahun kemudian juga disusul oleh bang Azuar. Rahma merasakan dadanya mulai sesak jika mengingat kenangan dengan orang - orang tersayang.

Pun dengan kak Zaidar, hubungan mereka memang tak pernah membaik. Bahkan semenjak emak meninggal, kak Zaidar terkesan hendak menyingkirkan Rahma. Padahal perkara warisan, sudah dibagikan sesuai amanah ayah. Tapi tetap saja ada rasa ketidak-puasan di hati kak Zaidar.

Rahma menahan napas untuk beberapa saat. Bagi Rahma segala hal dalam kehidupan ini biarlah berlalu semestinya tanpa memaksakan sesuatu itu harus berlaku bahagia atau duka.

Putik - putik bunga cengkeh bergoyang tertiup angin. Desember tahun ini, semua terasa sempurna. Rahma telah belajar menghargai arti cinta dan setia. Seperti emak yang setia menjaga ayah, seperti besarnya cinta bang Hardi kepadanya dan kesetiaan itu akan Rahma buktikan dengan mendampingi Hardi yang sudah lima tahun terakhir divonis stroke oleh dokter, tentunya Rahma akan ekstra perhatian untuk mendampingi Hardi dan membantu segala keperluannya.

Langit begitu terang. Gerimis telah berhenti. Rahma masih saja tersenyum menyaksikan kebahagiaan yang dimilikinya. "Bu, lihat. Pelangi melingkar indah." seru Kamila bersemangat.

"Kami tahu, ibu adalah penyuka pelangi. Mendiang atuk  pernah bercerita betapa ibu akan bergegas menyingkap tirai  jendela, melupakan segala kesedihan saat di langit  tercipta keindahan berwarna - warni.”

Rahma memeluk keduanya dengan erat, "Aaah ayah, hujan pelangi di langit Lubuk Sikaping memang  lebih indah. Bahkan hingga sekarang Rahma masih menjumpai keindahan itu di binar dua mata bahagia orang - orang yang Rahma sayangi."

***(Rz)***

Ramita Zurnia, lahir di kota kecil Lubuk Sikaping (Sumatera Barat) pada 03 September 1988. Merupakan anak sulung dari empat bersaudara. Seorang  pengagum senja dan hujan yang sangat suka menuliskan luka. Saat ini bergiat sebagai seorang penikmat dan penulis puisi cyber. Akun twitter @Mitha_AdelSanto

*** 

Cerpen ini pernah kuikutkan di #SayembaraCerpenFemina.
Nggak menang sih. :) Jadi sekarang dipajang di blog nggak apalah ya.
Namun semangat menulisku nggak surut dong. Tetap rajin nyari event nulis di internet.
Browsing ini itu yang berkaitan dengan menulis. :)
Selamat membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar