Rabu, 08 Juni 2016

#PestaFiksi04 Redcarra - HARI TANPA MATAHARI



 *sketsa gambar oleh R3dcarra*


Pagi yang sama.

Kabut-kabut dingin bergerak cepat, memeluk gerak langkahku yang melambat. Hati-hati sekali, kuturuni anak tangga satu per satu. Duapuluhsatu anak tangga. Aku merasa sangat bodoh karena telah menyempatkan menghitungnya.

Sreeettt...

Sekali tarik, tirai jendela itu terbuka selebar-lebarnya. Aneh. Tidak ada secercah cahaya pun memantul dari luar sana. Spontan. Aku berlari cepat ke arah sebuah pintu raksasa bergaya kuno, dengan ukiran  menyembul kasar di daunnya.

“Nona Marissa, anda mau ke mana?”

Langkahku sedikit tertahan. Kulepaskan singsingan gaunku yang menyembulkan kulitku yang putih susu. Air mataku merebak, membasahi pipi.

“Aku harus keluar dari sini, Bibi! Tolong bukakan pintu ini?”

Dahinya berkerut. “Nona, Anda tidak boleh kemana-mana,”

“Tolonglah Bibi Maira, bukakan pintu ini untukku.”

Wanita yang kupanggil bibi Maira, tergesa memanggil bibi-bibi lainnya. Bagiku mereka tampak sama. Karena sama-sama memakai dress berwarna senada. Warna putih.

Aku meronta. Pegangan mereka yang terlalu ketat mulai menyakitiku.

“Maira, hubungi dokter Arnold sekarang.”

***
Mari berpesta fiksi :*
oleh @Mitha_Adelsanto

Kamis, 02 Juni 2016

#FFKamis - Aku Tidak Akan Datang Hari Ini



Aku tidak akan datang hari ini.
Demi Tuhan! Aku tidak akan datang.

Rasanya benar-benar memuakkan! Setiap kali waktu yang dijadwalkan tiba, dan aku harus segera bertamu, tanpa menggedor pintu – diam-diam – mengagetkan si empunya rumah. Terkadang sempat membuatku berpikir, sebenarnya kedatanganku ini ditunggu atau tidak sih?

Entahlah!
Aku hanya mencoba nyaman dengan tugas yang sudah diembankan kepadaku.

Dan pagi ini –
Aku ngambek. Sengaja. Aku sengaja  lepas tangan untuk hal yang kesekian kalinya terjadi.

Argghh... Sial!

Si empunya rumah mengumpat. Dua garis merah melintang pada benda kecil di tangannya. 

Positif.

“Aku telat, Bara! Aku harus bagaimana,”

Tiba-tiba gadis si empunya rumah menangis.


***
 Pas 100 kata
oleh : Ramita Zurnia
twitterku : @Mitha_AdelSanto
menjawab tantangan #FFKamis tema TAMU dari miss MondayFF.

Kamis, 26 Mei 2016

#FFKamis - DIGREBEK



Kali ini kak Zahra nampak terburu-buru. Beberapa pakaian miliknya sampai berceceran, jangankan itu, blus yang  ia kenakan terlihat acak-acakan. Padahal aku tetap santai di tempat. Nyaris tidak melakukan apa-apa.

“Kak, jangan panik. Lihat...” Kutunjuk kancing blusnya yang lepas tepat di bagian dada. Dia meringis, membetulkan blusnya dan mengancingkannya kembali.

“Ah, kau, Jaka! Bantu aku sini!”

“Santai Kak, kita tidak akan ketahuan, percaya padaku!”

Kutowel pipinya yang tembem, Kak Zahra cemberut padaku.

“Kau ini! Aku tidak mau digrebek, tahu?” Dengusnya.

“Raziaaaa, Raziaaaa..”

Spontan para pedagang berhamburan. Termasuk kak Zahra. Dia meraup semua dagangannya, sementara aku kebingungan saat petugas Satpol PP menarik paksa gerobakku.

***
100 kata

oleh : @Mitha_AdelSanto

Rabu, 17 Februari 2016

#FFKamis – Pulang

Pukul 18:18.
Senja menjadikan suasana stasiun makin sunyi. Hanya ada satu dua orang berlalu lalang, sementara yang lain terlihat tenang di kursi tunggu.

Anin makin gelisah. Seharusnya kereta sudah membawanya pergi sejam yang lalu. Namun, ahh, Anin menarik napas dengan frustasi.

"Anin?!!"

Anin gugup bercampur takut setengah mati. Tak bisa mengelak, tangan kasar itu menariknya cepat.

"Bang, lepas!"

"Kau ingin lari, HAH?!!"

"Ampun, bang! Biarkan aku pulang,"

"Pulang, katamu?"

Lelaki itu menyeret Anin di lantai peron yang dingin, dan – mendorongnya ke jalur kereta. Tak ada yang mendengar erauan Anin. Hanya suara angin, terdengar menderu di antara laju kereta yang tiba.

***
Pas 100 kata

yeaaay, hari Kamis tentunya kembali menyempatkan diri untuk nge-FF dong.
Maka jadilah "#FFKamis - Pulang"
Disetorkan pada Miss @Mondayff dengan tema "PERON".
Oleh : @Mitha_AdelSanto

Kamis, 11 Februari 2016

#FFKamis – Gerimis di Mata Dania



Dania hanya terpaku dari seberang jendela kamarnya yang separuh terbuka. Gerimis yang turun semakin lama semakin deras. Angin nakal meliukkan tempias hujan, membuat percikan yang tepat mengenai wajah Dania.

Duka – duka turut turun berhamburan.

Kenangan menyakitkan itu kembali muncul dari ingatan.

“Dania, please...”

Dania tersentak, “Kau sudah mati, Bob!” pekiknya
.
Bayangan wajah Bob menghilang bersama angin. Ohhh...
Perempuan itu tersedu. Dania melempar tubuhnya ke atas kasur tipis tak berdipan itu. Suara isaknya terdengar memilu.

“Kau lelaki bangsat, Bob!” Gumamnya gusar.

Dania menjambak rambutnya sendiri. Beberapa helainya tercerabut kasar. Dania tersenyum, besok, semua duka akan terbayar impas setelah aborsi-nya berhasil dilakukan.

***
Words : 100
#FFKamis – Gerimis di Mata Dania
oleh : @Mitha_AdelSanto